Sistem Bagi Hasil yg Adil

Sistem profit sharing sebetulnya sangat bagus sekali dari sudut pandang syariat. Karena sistem ini lebih adil daripada sistem bunga. Bahkan sistem bunga bisa digolongkan kedalam kategori riba yang sudah jelas hukumnya haram.
Tapi kenapa banyak kasus sistem bagi hasil yang bangkrut dan bahkan banyak investor yang mengaku tertipu? Ada dua sebab yang mungkin terjadi. Pertama adalah karena sesungguhnya pengusaha itu tidak menggunakan sistem bagi hasil yang benar. Dan yang kedua, bisa jadi perusahaan itu menggunakan sistem bagi hasil dengan benar, namun tidak pernah dengan fair menjelaskan resikonya pada konsumen sehingga konsumen merasa ditipu.

Maka yang pertama kali harus Anda lakukan sebelum memutuskan untuk berinvestasi atau tidak, adalah dengan mempelajari seperti apa itu sebetulnya sistem bagi hasil. Dari situ kita bisa menentukan apakah perusahaan itu benar-benar menjalankan sistem bagi hasil dan apakah dia cukup fair dalam menjelaskan, bukan cuma potensi keuntungannya tapi juga resiko yang mungkin terjadi.
Sistem bagi hasil sejatinya adalah suatu kerja sama antara dua pihak dalam menjalankan usaha. Pihak pertama yaitu pengusaha yang memberikan andil dalam keahlian, keterampilan, sarana dan waktu untuk mengelola usaha tersebut. Sedangkan pihak kedua yaitu pemodal (investor) yang memiliki andil dalam mendanai usaha itu agar dapat berjalan. Baik itu modal kerja saja atau modal secara keseluruhan.
Atas masing-masing andil itulah, kedua belah pihak berhak atas hasil usaha yang mereka kerjakan. Karena tidak ada yang dapat memastikan, berapa keuntungannya. Maka pembagian hasil usaha itu ditetapkan dalam bentuk prosenstase bagi hasil dari keuntungan yang didapat, bukan atas besarnya dana yang diinvestasikan.
Kapan keuntungan itu dibagikan tergantung dari perjanjian dan jenis usaha yang dijalankan. Pembagian keuntungan itu dilakukan setidaknya dalam satu siklus usaha. Jika usaha itu berupa pertanian, maka yang disebut sebagai satu siklus usaha adalah sejak menanam sampai panen. Jika usahanya terus-menerus dan sulit ditentukan akhirnya, biasanya disepakati setiap satu bulan atau satu tahun.
Namun tak ada juga yang dapat memastikan bahwa usaha itu akan selalu untung. Untung atau rugi, itu hal yang biasa dalam berusaha. Lalu bagaimana kalau usaha itu rugi? Karena untung dibagi bersama, maka kerugian pun dibagi bersama pula, itulah letak keadilan dari sistem bagi hasil.
Pemodal memiliki resiko kehilangan sebagian atau seluruh modalnya jika usahanya merugi. Sedangkan pengusaha menanggung rugi berupa kerja dan waktunya yang sama sekali tidak dibayar. Ingat, pengusaha tidak boleh mengambil gaji dari usaha itu. Ia hanya berhak atas pembagian untung. Jika pengusaha itu sudah mengambil sebagian modal untuk kebutuhan pribadinya (termasuk gaji), maka ia harus mengembalikannya ke pemodal. Begitu juga pengusaha tidak boleh menggunakan modal kerja yang diterimanya untuk dialihkan menjadi pembangunan sarana produksi.
Jika ada penawaran investasi yang mengaku menggunakan sisitem bagi hasil, namun tidak mengikuti kaidah-kaidah seperti di atas, yakinlah bahwa tawaran itu menyesatkan dan sebaiknya Anda jauhi saja.
Berikut ini, poin-poin yang harus diwaspadai sebelum Anda terlanjur tertarik untuk menginvestasikan usaha Anda pada investasi yang mengaku menggunakan sistem bagi hasil:
1. Menjanjikan tingkat keuntungan yang pasti atas nilai investasiJika tawaran itu menjanjikan tingkat keuntungan yang pasti atas nilai investasi Anda, sudah jelas investasi itu tidak menggunakan pola bagi hasil. Karena bagi hasil memberikan pembagian keuntungan, yang belum dapat diketahui sampai usahanya selesai.
2. Tetap menjanjikan keuntungan walau usahanya merugi
Ini lebih gawat lagi, jika investasi tetap menjanjikan pembagian keuntungan walau usahanya merugi, besar kemungkinan ini adalalah money game. Dari mana pengusaha akan membayar keuntungan kalau usahanya saja rugi, jangan-jangan dari modal yang masuk sesudah kita. Kalau itu benar, bisa jadi uang yang kita tanamkan tidak digunakan untuk usaha itu, tapi dijadikan pembayaran keuntungan untuk pemodal sebelum kita.
3. Jaminan modal kembali
Jaminanan modal kembali juga bukan ciri-ciri usaha bagi hasil, karena sesungguhnya pemodal juga memiliki resiko jika usahanya merugi terus-menerus sampai habis modalnya.
4. Perbandingan prediksi dengan harga pasar
Boleh-boleh saja jika pengusaha memberikan prospektus yang berupa prediksi keuntungan yang akan diperoleh, tapi sekali lagi itu cuma perkiraan, tidak boleh menjanjikan. Cek kembali angka-angka pada prospektus dengan harga pasar yang berlaku sekarang. Jika perbedaannya terlalu jauh, berarti prediksi itu terlalu mengada-ada. Buatlah prediksi sendiri dengan versi Anda agar dapat memperkirakan apakah usaha yang dijalankan bisa menguntungkan.
5. Pembukuan yang transparan
Ini menjadi salah satu syarat utama dalam sistem bagi hasil. Bagaimana kita bisa tahu berapa keuntungan yang menjadi hak kita jika pembukuannya tidak transparan. Pengusaha harus memberikan laporan pada pemodal mengenai jalannya usaha secara berkala atau setidaknya setiap satu siklus usaha.
6. Keterbatasan penyerapan modal
Kemampuan dan skala usaha yang dimiliki pengusaha pastilah terbatas. Oleh karena itu pengusaha yang menawarkan investasi harus juga dapat menghitung berapa batasan modal yang dapat diserapnya. Tanah yang dia miliki untuk menanam kan terbatas. Maka modal yang diperlukan juga menjadi terbatas. Tapi, kalau pengusaha terus-menerus menerima modal tanpa adanya batasan, itu berarti uang investor tidak dijadikan modal kerja, tapi digunakan untuk hal lain yang tidak sesuai dengan perjanjian.
Sumber : Republika 19 Oktober 2003

Up side down ala Tukul

Ada yang tidak kenal dengan Tukul? Ah, tidak. Barangkali hanya satu dari seribu orang saja yang tidak kenal, dan kalau sampai tidak kenal alangkah ‘kebangeten’ –nya.  Alias keterlaluan.

Seperti yang kita ketahui, dia sangat melejit dengan tepuk tangan ‘monyet’-nya.  Dia yang terkenal dengan ‘puas-puas, sobek-sobek’. Dia juga terkenal dengan ‘kembali ke laptop-nya’. Dia terkenal dengan bahasa Inggris-nya yang (memang) sering salah. Kalau perlu malahan disalah-salahin. Pasti tidak asing lagi khan? Dia memang melejit bagaikan anak panah yang tidak terdeteksi asal-usulnya anak panah itu. Perjuangan hidupnya yang begitu kental dengan ‘kekurangan’ sangat nyata mewarnai sejarahnya. Sekian waktu yang lalu, orang kenal dengan Tukul hanya sebagai pemain figuran, barangkali, di Srimulat.  Atau orang hanya kenal dari bahasa Inggris-nya yang serba pas-pasan, namun juga membuat orang terpingkal-pingkal, meskipun hanya modal nekat. Akan tetapi sekarang, sungguh jauh berbeda. Nasib berubah bak membalikkan tangan dengan sekejap saja.  Semua artis bisa di-cium-i, dan hebatnya mereka tidak  keberatan.  Juga laris menjadi bintang iklan beberapa produk.  Katanya,  sekarang menjadi seorang milyarder dadakan.  Ini baru kejadian LANGKA! Banyak pakar baik pakar sosial, politik, pelawak, serta para artis sekaligus berkomentar tentang Tukul.  Mereka mengejawantahkan dari berbagai sudut pandang (kaca mata) mereka dan berusaha menggali, “Apakah sih, istimewanya Tukul?” Lho, aneh bukan? Dulu rasanya tidak ada yang berusaha menggali potensi dan kemudian mengomentari sang Tukul ini.

Bagi kita masyarakat Indonesia, (maaf, khususnya Jawa) sebenarnya model lawakan Tukul bukanlah hal baru. Telinga kita umumnya sudah fasih sekali mendengarkannya.  Yang diangkat itu juga kebanyakan mencerminkan hal-hal lama : ke-ndeso-an, ke-culun-an atau apapun yang sebenarnya sudah kuno, alias uzur.  Nah, ini hebatnya, seorang Tukul mampu mengangkat tema-tema kuno ke permukaan kembali dan menjadi lucu. Akhirnya laik jual juga. Celometan-celometannya pun juga seolah-olah asal berani. Meskipun celometan ini banyak mengandung resiko, ditiru kaum anak-anak, tapi berkat kelihaiannya akhirnya resiko ini mampu ditepis. Paling-paling ya hanya ‘puas-puas’ saja yang sudah umum ditiru.  Makanya supaya celometan-celometan yang kasar dan asal njeplak itu tidak ditiru anak-anak, disudut kiri atas ditulisi BO = Bimbingan Orang Tua dan selalu ditayangkan lewat pukul 21.30.  Lantas apa sih yang bisa dicermati dari seorang Tukul khususnya untuk kalangan sales dan marketing? Judul di atas diawali dengan istilah up side down. Pernahkah Anda mendengar istilah Up Side Down?  Up Side Down ini bisa diterjemahkan secara lugas menjadi membalik fakta.  Artinya penampilan Tukul yang aneh ini, menjadi lain daripada yang lain.   Maksudnya adalah bagaimana kita bisa menampilkan sesuatu itu lain daripada yang lain.  Tujuannya supaya dikenal oleh banyak kalangan alias tenar.   Masih ingatkah kita akan masa lalu kita misalnya saat masih belajar di bangku Sekolah Dasar? Guru kita biasanya akan selalu ingat terhadap murid-muridnya yang paling pinter, paling bodoh, dan paling nakal.  Mengapa, karena mereka itu lain daripada yang lain. Jadi murid-murid yang ‘sedang-sedang saja’ biasanya lepas dari pengamatan guru. Sesunguhnya sama saja yang terjadi di lapangan, khususnya di dunia sales.  Umumnya pelanggan kita juga paling hafal dengan beberapa orang sales saja yang memang benar-benar tampil beda.  Wah, si dia itu paling pinter kalau diajak bertukar pikiran. Atau dia itu paling bisa memberikan solusi, misalnya.  Atau juga, O…. itu lho yang selalu cukur gundul! Dan sebagainya. Jadi yang baik, yang jelek, akan lebih “kuat” menempel di main set  pelanggan.  So, kita mau di mana?  Pilihan ada di tangan kita sendiri.  Mau menjadi yang sedang-sedang saja juga boleh, namun itu “dunia kebanyakan” (yang paling banyak anggotanya).  Semuanya membawa konsekuensi tersendiri. Yang memilih menjadi yang terbaik pada akhirnya banyak membantu pelanggan, demikian juga sebaliknya yang memilih menjadi yang terjelek juga kurang dihormati pelanggan.  Atau yang sedang-sedang saja yang umumnya  paling aman dari gosip. Dunia peternakan yang begitu sarat dengan teknologi dan kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan teknologi ini begitu pesatnya.  Apakah para peternak akan selalu tahu perkembangan tersebut? Ternyata tidak.  Mereka hanya tahu sepotong-sepotong saja.   Para tenaga lapangan (baca: technical service) sebaiknya menyampaikan perkembangan teknologi dari perusahaan di mana mereka bekerja, dan berusaha memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada.  Dan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa perusahaan, baik perusahaan pakan, obat, vaksin dan lain-lain adalah yang tahu pertama kali akan perkembangan tersebut.  Transfer teknologi ini sangat diperlukan demi perbaikan performa produksinya, dan pada akhirnya akan meningkatkan keuntungan peternak. Para tenaga lapangan dalam hal ini mempunyai peluang emas untuk ‘mengambil hati’ peternak melalui transfer teknologi. Siapa saja yang mampu memberikan bimbingan di lapangan dan selalu mencermati perubahan-perubahan yang ada dan kemudian menerjemahkannya ke dalam suatu langkah nyata, itulah yang akan eksis. Ini baru tampil beda. Intinya, tampil beda itu penting dan sangat perlu.  Ingatlah, bahwa semua yang kita tampilkan ke luar dari diri kita ini sesungguhnya merupakan investasi diri kita di lingkungan kita.

Jika kita tampil beda dengan sesuatu yang baik, berarti kita telah berinvestasi sesuatu yang baik pula.  Lingkungan dan semua orang akan menilai dengan sendirinya.  Para pelanggan pun juga akan berkomentar kepada semua kolega-nya.  Termasuk para kompetitor pun berusaha merebutnya. Akhirnya jadilah  seseorang yang dikenang oleh banyak orang, legendaris.  Meskipun sudah keluar dari lingkungan tersebut, semua orang masih mengingatnya dengan baik. Sungguh besar nilai investasi ini.  Tukul pun suatu saat akan berhenti berkarir seperti yang dijalani saat ini.  Akan tetapi sejarah akan mencatat bahwa dia pernah sangat terkenal dengan keanehan-keanehannya.  Dan itu akan sangat lama, kecuali Tukul berhenti berkarir lantaran terjebak oleh kegiatan yang negatif misalnya narkoba.  Maka dia berarti menghancurkan image building  yang sudah sangat megah ini. Akhirnya marilah meng up side down diri kita, berusaha tampil beda namun akan lebih baik jika tampil dengan hal-hal yang baik.  Sejarah harus di ubah.  Pernahkan mendengar apa artinya orang hebat?  Orang hebat adalah orang yang bisa membalik fakta, mengubah kelemahan menjadi kekuatan, dan mengubah tantangan menjadi peluang. Jadi memahami SWOT analysis saja tidaklah cukup.  Harus bisa membalik faktanya, ini baru hebat.  Selamat berubah!   (source:Poultry indonesia)

Pedet ke-3 Lahir di Tahun 2009

ALHAMDULILLAH…

JUMAT Pon (28/08/2009), Telah lahir dengan selamat pedetku yang ke-3 di tahun ini. Karena bertepatan dengan bulan Ramadhan dan berkelamin betina, kami menamainya ZERRONENY RAMADHANI. Apik to ???? ihirr….^_^\

Lahir pada pukul 2 dini hari WIB saat para ibu-ibu mempersiapkan menu sahur, secara normal dan lancar tanpa bantuan manusia. Pedet ini berasal dari induk PO (peranakan Ongole) berwarna putih dan merupakan nenek moyang dari sapi-sapi yang ada di kandang kami. Induk berumur sekitar 7 tahun lebih dan telah beranak sebanyak 6 kali. Dulu dibeli dipasar dengan harga Rp. 325 ribu. Kelihatannya sangat murah?? tapi cukup mahal saat itu. Kalau sekarang dengan uang 5 juta rupiah saja belum tentu dapat sapi seperti ini. Apalagi yang berasal dari keturunan silangan Simental maupun Limousin.

Secara deskriptif pedet ini dapat digambarkan sebagai berikut: bulu coklat muda cenderung putih, moncong hitam, ada bercak bulu putih di dahi, tracak hitam, postur tidak terlalu besar namun masih normal. Pedet ini tidak lebih baik dari kakaknya yang dahulu yang sudah memiliki moncong, tanduk, ekor dan tracak putih. Kemunculan warna pada bagian-bagian tersebut disebabkan karena pengaruh genetik dari parental (tetuanya). Bulu coklat; moncong, tanduk,tracak dan ekor putih dapat muncul dari keturunan induk sapi PO dan Pejantan Simental dikarenakan sifat pejantan lebih dominan terhadap genetik induk. Ini terjadi pada kakak pedet ini. Sedangkan pada Ramadhani ini sifat yang muncul dominan berasal dari induk dan hanya sedikit dari bapaknya yaitu dengan warna coklat muda yang cenderung putih.

Induk sebenarnya sudah cukup tua dan sudah waktunya diafkir. Namun karena sapi ini sangat produktif, subur serta menghasilkan keturunan-keturunan yang bagus maka pengafkiran selalu ditunda-tunda. Produktif dan subur karena hampir tiap tahun mampu beranak serta conception service/CS (jumlah perkawinan sampai induk bunting) sangat kecil, sekali IB (inseminasi buatan) langsung jadi. Berbeda dengan induk-induk lain di tempat kami yang biasanya butuh 2 kali IB untuk bisa bunting, bahkan bisa lebih (marai jengkel tur anyel tenan-bhs jawa-)

Setiap pedet betina yang lahir biasanya akan dipelihara untuk dijadikan indukan. Semakin banyak generasi maka akan makin baik pula keturunannya. Biasanya keturunan yang paling baik untuk dijadikan indukan yaitu F5 (generasi ke-5). Generasi ke-5 tetapi bukan anak yang ke-5. Lebih jelasnya bisa digambarkan sebagai berikut:

Keterangan gambar: diasumsikan semua keturunan (F) berkelamin betina

Sapi betina (induk dan dara) di tempat kami saat ini maksimal hanya sampai pada F3. Seandainya semua anak yang dilahirkan dari dulu sampai sekarang berkelamin betina kemungkinan kami sudah memiliki induk F5. Namun karena hal itu tidak terjadi dan sering tidak dikehendaki datangnya kelahiran pedet betina (lebih diharapkan pedet jantan karena cepat besar dan harga jualnya tinggi). Pedet betina sebaiknya memang tidak dijual bila tidak benar-benar diperlukan. Sebaiknya dipelihara sampai menghasilkan keturunan-keturunan berikutnya. Dan ingat, sangat dilarang untuk disembelih!!!! Peringatan keras dari pemerintah. Bahkan sudah masuk dalam undang-undang.
Untuk itu marilah kita lestarikan sapi-sapi betina kita demi kemajuan peternakan Indonesia….. ayayayaya…..^_^